sains tentang jet lag

bagaimana jam biologis kita berantem dengan rotasi bumi

sains tentang jet lag
I

Bayangkan kita baru saja turun dari pesawat setelah belasan jam mengudara melintasi benua. Matahari sedang terik-teriknya bersinar di luar bandara. Tapi entah kenapa, di dalam tubuh kita, rasanya seperti jam tiga pagi yang paling sunyi. Mata kita pedih, kepala terasa mengambang, dan kita merasa seperti zombi yang dipaksa ikut lari maraton. Pernahkah kita mengalami kebingungan absolut ini?

Inilah yang secara populer kita sebut sebagai jet lag. Rasanya jelas bukan sekadar capek biasa setelah duduk lama di kelas ekonomi. Ada perasaan aneh seolah jiwa kita tertinggal di zona waktu sebelumnya, sementara fisik kita sudah mendarat di benua yang berbeda. Mari kita bedah fenomena ini, karena apa yang terjadi di dalam diri kita saat itu sebenarnya adalah sebuah pemberontakan biologi yang sangat epik.

II

Untuk memahami pemberontakan ini, kita perlu mundur sebentar melihat sejarah kita sendiri. Ribuan tahun lalu, leluhur kita bepergian dengan berjalan kaki, atau paling banter naik kuda. Perpindahan antar wilayah dan zona waktu terjadi dengan sangat lambat. Tubuh kita punya waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, untuk beradaptasi dengan perubahan letak matahari.

Namun, semuanya berubah drastis ketika manusia menciptakan mesin terbang. Tiba-tiba, kita bisa menembus belasan zona waktu hanya dalam waktu dua belas jam. Masalahnya, secara evolusioner, anatomi tubuh kita tidak pernah diprogram untuk bergerak secepat ini. Di dalam DNA kita, ada sebuah jam kuno yang terus berdetak. Jam ini sangat keras kepala. Ia masih berpegang teguh pada jadwal matahari terbit dan terbenam di tempat asal kita berangkat.

Pertarungan sengit pun dimulai. Tubuh kita yang berevolusi untuk bergerak lambat, kini dipaksa melawan rotasi bumi yang seolah dipercepat oleh mesin jet.

III

Jam kuno di dalam diri kita ini punya nama ilmiah: circadian rhythm atau ritme sirkadian. Selama ini kita mungkin berpikir bahwa ritme ini cuma mengatur kapan kita merasa ngantuk dan kapan kita segar bugar.

Tapi mari kita berpikir lebih jauh. Dari mana sebenarnya tubuh kita tahu jam berapa sekarang? Apakah semata-mata dari mata yang melihat cahaya? Lalu, kenapa saat jet lag, keluhannya bukan cuma mata yang berat? Seringkali perut kita ikut mual, jadwal ke kamar mandi jadi berantakan, dan nafsu makan kita hilang entah ke mana. Apa hubungannya menembus awan dengan pencernaan kita?

Ternyata, anatomi dari kebingungan ini jauh lebih rumit dan mengagumkan dari yang kita kira. Ada sebuah titik sangat kecil di dalam otak kita yang bertugas layaknya seorang dirigen utama dalam sebuah orkestra raksasa. Dan saat sang dirigen ini kebingungan karena kita berpindah benua, seluruh musisi di dalam tubuh kita ikut bermain dengan nada yang kacau balau. Titik kecil apakah itu?

IV

Mari berkenalan dengan sang dirigen: Suprachiasmatic Nucleus atau disingkat SCN. Letaknya jauh di dalam otak kita, tepat di atas persilangan saraf optik mata. Tugas utama SCN adalah menangkap sinyal cahaya terang dan gelap dari luar, lalu meneriakkannya ke seluruh tubuh.

Saat SCN mendeteksi cahaya matahari sore mulai meredup, ia menyuruh pabrik di otak untuk memproduksi hormon melatonin, si hormon tidur. Masalahnya, sains modern menemukan sebuah fakta keras yang jauh lebih gila. Ternyata, bukan cuma otak kita yang punya jam. Setiap organ di tubuh kita punya jam selulernya masing-masing. Hati kita punya jam. Ginjal kita punya jam. Usus dan lambung kita juga punya jadwal operasionalnya sendiri.

Saat kita terbang dari Jakarta ke London, SCN di otak kita mungkin bisa lumayan cepat beradaptasi dengan cahaya matahari lokal. Tapi, jam di organ pencernaan kita luar biasa lambat dan telat beradaptasi. Otak kita melihat matahari siang dan berteriak, "Ayo bangun, ini waktunya aktif!" Tapi lambung dan usus kita membalas, "Gila ya? Ini jam 2 pagi waktu Jakarta, waktunya hibernasi, bukan waktunya mencerna makanan berat!"

Inilah jawaban saintifik mengapa jet lag terasa sangat menyiksa secara fisik. Ini bukan sekadar rasa lelah kurang tidur. Ini adalah kondisi kacau di mana organ-organ di dalam tubuh kita sedang bertengkar satu sama lain. Orkestra biologi kita sedang bermain fals secara total.

V

Menyadari fakta sains ini seringkali membuat saya merasa lebih berempati pada tubuh sendiri. Teman-teman, saat kita mengalami jet lag, kita sebenarnya sedang menuntut tubuh biologis kita untuk melakukan keajaiban instan. Kita menantang hukum alam dan melawan rotasi planet bumi. Jadi, sangat wajar jika kita butuh waktu beberapa hari untuk merajut kembali harmoni di dalam tubuh.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk membantu tubuh kita berdamai? Sains menyarankan kita untuk segera melakukan sinkronisasi di tempat baru melalui dua jalur utama: paparan cahaya dan makanan. Memaksa diri jalan-jalan di bawah cahaya matahari pagi akan sangat membantu SCN di otak mereset ulang waktunya. Sementara itu, memaksa diri makan di jam makan lokal—meski tidak lapar—akan membantu usus dan hati menyetel ulang jam seluler mereka.

Pada akhirnya, jet lag adalah sebuah pengingat evolusioner yang cukup romantis. Sekuat apapun teknologi manusia merancang mesin jet untuk menerbangkan kita melintasi angkasa, kita tetaplah makhluk biologis bumi. Kita berevolusi di bawah pelukan cahaya matahari. Dan kadang, setelah perjalanan panjang, kita hanya perlu duduk sebentar, bernapas perlahan, dan membiarkan jiwa serta jam kuno di tubuh kita mendarat dengan selamat menyusul raga kita.